Surat untuk Fika

January 20, 2011 § 157 Comments

Dear Fika,

Apa kabarmu, cantik? kuharap kau tak terkejut dengan datangnya surat ini. Aku akhirnya memutuskan untuk menulis surat ini untukmu. Entahlah, aku selalu merasa, kau pasti bisa membaca suratku, meskipun aku tak begitu yakin apakah ada internet di surga. Tapi bukankah surga adalah tempat di mana semua keinginan bisa terwujud? Ah, sudahlah.. rasanya, penyediaan akses internet bukanlah perkara besar untuk Tuhan, kan?

Fika sayang,

Saat aku menulis surat ini, aku baru saja pulang kerja. Hmm.. tubuhku terasa letih dan semacam mau rontok, tapi ini tak menyurutkan niatku untuk menulis sepucuk surat cinta untukmu, perempuanku. Oh ya, Fik.. kau tak perlu khawatir, karena sebelum menulis surat ini, aku sudah makan malam, jadi kau tak perlu pasang muka cemberut, sambil tiba-tiba mematikan laptopku, dan memaksaku untuk makan, seperti yang sering kau lakukan dulu.

Fik..

Semalam, tanpa sengaja, aku menemukan rekaman video kita di ponselmu. Aku ingat, waktu itu kita sedang bercanda di dalam mobil, sepanjang perjalanan pulang kantor. Aku baru sadar, kalau ternyata saat itu kau merekamnya, seolah-olah saat itu kau sudah tahu, bahwa kita tak lagi punya banyak waktu. Aku terus mengulang-ulang, bagian ketika aku bernyanyi keras sambil meliuk-liuk seperti belut di musim kawin, berpura-pura sedang menjadi model video klip dari lagu yang diputar, tentunya disertai dengan suaraku yang tak ramah lingkungan dan mirip kaleng rombeng. Namun, semua kekonyolanku itu, cukup untuk membuatmu tertawa terpingkal-pingkal sepanjang perjalanan. Aku memejamkan mata, sambil mendengarkan dengan seksama rekaman itu, berulang-ulang, lagi dan lagi. Malam itu, aku kembali menyimak suara lekuk tawamu yang mengalun, suara yang biasanya membisikkan selamat pagi di telingaku, suara yang biasanya mendoakan kebahagiaanku, suara yang selalu ingin kudengar. Semua itu sekejap saja membuatku tertegun tanpa sepatah kata, hanya ada debar, menyisakan diam yang begitu senyap, dan tak berapa lama, kusadari mataku sudah berkabut. Aku sungguh merindukanmu, Fik.

Kau tahu, Fik? aku selalu bergelut dengan rindu yang tak berkesudahan. Hal yang selalu tumbuh subur dan bersemi di dalam jiwaku, tapi sejujurnya, aku ternyata cukup bahagia dengan semua itu, akupun sama sekali tak keberatan, jika sekali waktu aku harus menyemai rindu-rindu itu di ladang hatiku. Bahkan aku merasa, rindulah yang selama ini menyatukan kita dalam angkuhnya jarak, begitupula luka, yang membawa kita sampai pada cinta.

Entah mengapa, aku selalu berdebar setiap melihat namamu di surat ini. Belum lagi arsir wajahmu, yang seakan sudah membatu di kepalaku. Terkadang, aku benci akan pagi, yang selalu memaksaku untuk menyaksikanmu yang tak ada. Sejujurnya, aku lebih suka malam, saat aku bisa sejenak terpejam, dan kembali menemukanmu di sana. Kau hadir seperti jantung cahaya, yang berkilauan di atas samudera tenang tanpa gelombang. Ah, sebenarnya aku tak yakin di mana aku sedang hidup saat ini, yang aku tahu, saat ini aku sedang berada pada satu titik, di mana semua terlihat samar-samar, dan satu-satunya yang terlihat jelas, adalah kau.

Fika-ku sayang,

Aku masih terus mengunjungi makam dan rumahmu di bogor setiap akhir pekan. Syukurlah, Ayahmu sehat-sehat selalu disana, meskipun rambutnya semakin terlihat memutih. Kami sering menghabiskan waktu berdua, sekedar menonton pertandingan sepak bola, ditemani sepiring bihun goreng buatannya. Ah, aku sungguh beruntung punya mertua seperti ayahmu, Fik. Dia pandai sekali memasak. Oh ya, kau tak perlu cemas soal ayahmu, karena aku pasti akan selalu menjaga orang tua kita, itu janjiku. Oh ya Fik, setiap aku bermalam di bogor, aku suka memandangi kamar kita, yang di sudutnya terdapat setumpuk kado pernikahan yang belum sempat kita buka satu-persatu. Setiap melihat itu, aku hanya mengucap dalam hati, betapa Tuhan begitu tergesa-gesa.

Fika sayang,

Sebelum tidur, aku ingin mengecup keningmu lewat surat ini. Ayo, sekarang pejamkan matamu sebentar saja, karena aku akan tiba di sana memelukmu erat, sambil mencium keningmu sebelum kau terlelap dalam mimpi indahmu. Selamat malam sayang, selamat tidur perempuanku, aku akan terus menghitung setiap detik yang berkurang, sampai kita dipertemukan kembali.

Suamimu,
Acho

Tagged: , ,

§ 157 Responses to Surat untuk Fika

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

What’s this?

You are currently reading Surat untuk Fika at Satu Momen.

meta

%d bloggers like this: