Kepada waktu, yang mengajariku menunggu.

October 16, 2010 § 14 Comments

Aku selalu kagum, kepada setiap ketukan detik, yang merangkak pelan-pelan pada jam dinding bundar itu. Selalu saja penuh rahasia, menyelundup diam-diam, namun tak pernah lupa menanam benih-benih cerita. Kau, aku, adalah jiwa-jiwa yang menari, berpijak dari satu titik ke titik lainnya, menebar tawa, meluruhkan air mata, melahirkan sebuah peristiwa.

Kepada celah sunyi, malam melantunkan jiwanya, disela nyanyian-nyanyian angin yang sekilas melintas, menggoyangkan ranting-ranting kurus diujung jalan. Malam sudah semakin membungkuk, mungkin terlalu takut bertemu pagi. Rembulan sudah mati, hilang pendarnya ditepi subuh, hanya hening, selebihnya cuma rindu.

Happy birthday to myself. Kini, aku setahun lebih dekat, untuk bertemu denganmu. Terima kasih kepada waktu, yang sudah mengajariku menunggu..

* Peluk hangat untuk istriku tercinta, Fika.. *

About these ads

Tagged: , , ,

§ 14 Responses to Kepada waktu, yang mengajariku menunggu.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

What’s this?

You are currently reading Kepada waktu, yang mengajariku menunggu. at Satu Momen.

meta

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

Join 258 other followers

%d bloggers like this: