Cinta, Menunda Kehilangan.
September 30, 2010 § 4 Comments
Membesarkan gelak tawa, menebar riuh, beradu riang, dan menganggap semuanya akan baik-baik saja, biar sajalah seperti itu, walau sebenarnya kau sangat sadar, bahwa jiwamu terlalu gusar, untuk hanya sekedar menatap senja yang temaram. Hatimupun terlalu letih, untuk menahan sepi yang kian menindih, meremukkan jiwamu, hingga menyerpih.
Melepasmu, dengan segala kehampaan, adalah perih yang tak terbantahkan. Selalu saja membuat jiwa mendadak lumpuh, jatuh bersimpuh, dan terus terbenam dalam kepiluan yang panjang. Terlalu banyak guratan luka, setumpuk cerita, namun sedikit sekali mimpi dan harapan yang tersisa.
Rindu itu menyentak, saat hati tengah meretas kenangan, yang terulur santun. Betapa masih melekat dalam ingatan, sepasang mata yg kerap memandang lembut, bibir yg senantiasa tersenyum, suara yang selalu memanjakan telinga, dan dekapan hangat yang selalu mampu menjinakkan setiap lekuk kepenatan. Sungguh, lukisan garis-garis rautmu itu, selalu saja membuat raga ini terasa ngilu, dan saat semua itu datang, aku hanya bisa mengerti satu hal, betapa cinta hanyalah menunda kehilangan.
Sudah 30 malam, senja dipaksa berlabuh, meyisakan pekat malam yang enggan berpendar. Sepipun terlalu dingin mengendap. Sementara hujan, seolah tak ingin terlalu buru-buru, menghapus jejak yang pernah kau toreh, dan musimpun tak pernah mau tua.
* Peluk hangat untuk istriku tercinta, Fika.. *
atau lebih baik tak pernah bercinta – mencinta – dicinta seumur hidup?
cinta itu akan abadi hanya jika saat kita kehilangan
Hatimu terlalu dingin untuk menunda rasa kehilanganku
Hingga pintu hatimu tertutup, hatiku meradang #lagiGalau
tulisan-tulisan bang acho baguus banget , bikin mata berkaca-kaca